Gejala dan Cara Mengatasi Ruam Popok Pada Bayi

Ditinjau oleh: dr. Irma Lidia 

Ruam popok adalah bentuk umum dari iritasi atau peradangan kulit (dermatitis) yang timbul karena berbagai faktor. Biasanya tanda yang muncul dari ruam popok ini adalah kemerahan pada area bokong, kelamin dan lipatan paha. Ruam popok sering dikaitkan dengan popok basah atau jarang diganti, sensitivitas kulit, dan lecet. Bayi yang mengalami ruam popok sering kali rewel atau menangis saat area popok dicuci atau disentuh.

Ketika bayi mengalami ruam popok, bukan berarti orang tuanya tidak memperhatikan kebersihan anaknya. Orang tua sering kali salah menilai bahwa ruam popok yang terjadi pada anaknya adalah hasil dari kelalaiannya dalam mengasuh. Padahal perlu diketahui bahwa penyebab dasar dari jenis iritasi kulit yang umum ini masih diperdebatkan secara aktif di bidang dermatologi dan kelalaian pada pola asuh yang bukanlah salah satu faktor yang mungkin. 

Meskipun ruam bisa timbul pada minggu pertama kelahiran, namun periode waktu yang paling sering adalah antara usia 9-12 bulan. Penelitian telah menunjukkan bahwa, pada suatu waktu, antara 7% -35% anak-anak dalam rentang usia ini mengalami ruam kulit seperti itu.

Penyebab Ruam Popok Pada Bayi

Faktor yang menjadi penyebab terjadinya ruam popok pada bayi bisa dilihat dari beberapa hal, yaitu :

1. Urin dan Feses

Kulit di area kelamin dan bokong memang lebih sensitif dibandingkan kulit di area lain. Apalagi bayi yang baru lahir. Mereka baru menyesuaikan diri dengan lingkungan yang cukup berbeda dibandingkan dengan di kandungan ibu. Kulit yang lama terpapar langsung dengan urin atau feses yang tertampung di popok, cenderung akan lebih mudah iritasi. Untuk menghindari hal ini terjadi, periksalah popok bayi Anda secara rutin.

2. Gesekan dengan popok atau celana dalam

Hindari pemakaian popok dan celana dalam yang terlalu ketat pada bayi Anda. Selain membuatnya jadi tidak nyaman untuk bergerak, menggunakan popok atau celana dalam yang ketat akan menimbulkan ruam pada area kelamin dan bokongnya. Hal ini disebabkan karena adanya gesekan yang intens antara popok dan kulit bayi.

3. Infeksi bakteri atau jamur

Kondisi kulit di area kelamin dan bokong yang cenderung lembab, merupakan tempat yang paling disukai bakteri dan jamur untuk berkembang biak.ditambah lagi area ini merupakan area yang sering tertutup oleh popok. Agar tidak ada bakteri atau jamur yang berkembang biak, pastikan kelamin dan bokong bayi Anda sudah dalam keadaan yang kering sebelum menggunakan popok yang baru.

4. Respon terhadap makanan atau produk baru

Mencoba produk-produk baru seperti merek popok, pelembut pakaian, dan tisu basah adalah hal yang dapat dimaklumi pada setiap orangtua baru karena memang masih dalam fase pencarian merek apa saja yang cocok dan sesuai dengan sang buah hati. Tidak hanya untuk produk yang digunakan, bahan-bahan makanan yang dikonsumsi sang anak juga terus dieksplor. 

Penggunaan barang baru dengan kandungan bahan kimia tertentu atau pemberian bahan makanan yang belum pernah dikonsumsi anak sebelumnya, sangat mungkin memunculkan reaksi. Tidak terkecuali reaksi yang timbul di area yang cukup sensitif seperti lipatan paha. Perubahan yang terjadi pada feses, termasuk perubahan kandungannya dan frekuensinya dalam sehari juga bisa memberikan dampak ruam popok.  

5. Penggunaan antibiotik

Dengan mengonsumsi antibiotik, seluruh jenis bakteri yang ada di tubuh termasuk kulit, akan terbunuh tanpa mengidentifikasi terlebih dahulu apakah itu bakteri baik atau jahat. Saat bayi mengonsumsi antibiotik, bakteri yang berperan untuk menjaga pertumbuhan jamur bisa habis sehingga menyebabkan ruam popok karena infeksi jamur. 

Selain itu, penggunaan antibiotik juga meningkatkan risiko diare pada bayi. Ibu menyusui yang mengonsumsi antibiotik berisiko lebih tinggi memberikan kandungan antibiotiknya melalui ASI dan risiko sang bayi akan mengalami ruam popok juga lebih tinggi. 

Cara Mencegah Ruam Popok Pada bayi

Agar bayi Anda terhindar dari masalah ruam popok, Anda bisa coba lakukan beberapa hal berikut ini : 

  • Membilas bokong dengan air hangat pada saat mengganti popok.
    Penggunaan kain lap lembab, bola kapas, dan tisu bayi juga dapat membantu membersihkan kulit, tetapi berhati-hatilah. Jangan gunakan tisu dengan alkohol atau pewangi. Jika Anda ingin menggunakan sabun, pilih jenis yang lembut dan bebas pewangi.
  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti popok bayi.
    Hal ini bertujuan agar Anda tidak membawa bakteri yang menempel pada tangan Anda saat hendak mengganti popok bayi Anda maupun bakteri pada kotoran bayi. 

Dapat dikatakan kunci pencegahan ruam popok adalah menjaga kondisi bokong dan kelamin tetap dalam keadaan kering dengan cara segera mengganti popok bayi ketika sudah basah dan hindari penggunaan popok dan celana dalam yang terlalu ketat.

Cara Mengatasi Ruam Popok Pada Bayi

Jika sudah dicegah dengan sebaik-baiknya namun bayi tetap mengalami ruam popok, apa yang harus dilakukan? Hentikan segera penyebab ruam tersebut. Pastikan Anda mengetahui perlakukan apa yang berbeda daripada biasanya. Apakah makanan, obat-obatan, atau jenis popok yang Anda pilih untuk bayi Anda. 

Dengan mengetahui hal yang berbeda dari biasanya, Anda dapat dengan mudah mengidentifikasinya dan menghentikan penggunaan hal baru tersebut. Batasi juga penggunaan tisu atau kapas saat membersihkan bekas urin atau feses bayi. Gunakan kain lembut yang dibahas secukupnya untuk membersihkan kelamin dan bokong bayi. 

Untuk meredakan kemerahan pada area kulit yang ruam, coba oleskan salep yang mengandung petroleum jelly atau zinc oxide. Kedua kandungan ini memberikan perlindungan yang efektif terhadap iritasi kulit dan mengurangi gesekan pada kulit yang teriritasi. Jika ruam popok sangat teriritasi oleh penggosokan yang diperlukan untuk kebersihan yang benar, maka penggunaan krim atau salep anti lengket (seperti Vaseline) sebagai pelindung dapat menjadi pertimbangan penting

Namun jika sudah melakukan pencegahan dan penangan ruam popok sebisa Anda, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter terkait ruam popok yang bayi Anda alami. Karena dikhawatirkan telah terjadi infeksi bakteri atau jamur sekunder dan harus diberikan obat dan penanganan berdasarkan rekomendasi dokter anak. 

Perlu diperhatikan bahwa ruam popok bisa terjadi pada bayi yang menggunakan popok sekali pakai maupun popok kain. Bagi orang tua yang memilih untuk menggunakan popok kain pada bayinya, perhatikan deterjen yang digunakan untuk mencuci popok kain tersebut. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa ketidakcocokan bayi terhadap kandungan kimiawi yang mungkin ada di deterjen atau pelembut pakaiannya juga dapat memicu timbulnya ruam popok. Anda juga bisa mencoba langkah berikut ini ketika mencuci popok kain si kecil : 

  • Merendam popok kain yang sangat kotor dalam air dingin.
  • Mencuci popok dengan air panas dengan deterjen lembut dan pemutih yang bertujuan untuk membunuh kuman. 
  • Bilas popok dua kali dengan air dingin untuk menghilangkan sisa bahan kimia dan sabun kemudian jemur.

Itulah gejala dan cara mengatasi ruam popok pada bayi yang berhasil tim Ngovee kumpulkan. 

Simak artikel seputar tips dan trik kesehatan lainnya dari Jovee, pusat vitamin terlengkap. Unduh juga aplikasi Jovee melalui Play Store dan App Store serta dapatkan suplemen personalmu

Penulis : Filza Intan M

Baca juga : 

Ciri Bayi Tidak Cocok Susu Formula dan Mengantisipasinya

5 Makanan Yang Harus Dihindari Saat Menyusui

Vitamin Ibu Hamil: Asam Folat, Perlu?

Referensi : 

Diaper Rash. Mayoclinic
Diaper Rash. Medicinenet