Ketahui Informasi Seputar Laju Endap Darah

Ditinjau oleh : dr. Irma Lidia
Bagi masyarakat yang umumnya rutin melaksanakan medical check up setiap tahunnya, pastinya akan dijumpai pemeriksaan yang berkaitan dengan laju endap darah atau LED. Nah, sebenarnya apakah LED itu ? Berikut akan dijelaskan secara ringkas melalui pembahasan artikel di bawah ini.

Apakah Itu LED?

Laju endap darah atau LED yang dalam bahasa Inggris disebut Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) merupakan kecepatan dari sel darah yang mengendap dalam sebuah tabung uji coba yang pengukurannya menggunakan satuan mm per jam. Pengujian LED ini dimaksudkan untuk mengamati kemungkinan timbulnya infeksi atau radang pada tubuh.

Pengujian dilakukan dengan menerapkan metode Westergren yang mana sampel darah diberi antikoagulan, kemudian diletakkan pada tabung berbentuk vertikal yang ukurannya 200 mm. Setelah itu dibiarkan selama sekitar 1 jam guna dipantau kecepatan dari sel darah merah dan seberapa jauh sel tersebut bergerak menuju tabung bagian dasar.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil pengujian dari LED ini, di antaranya yakni faktor rasio dari sel darah merah yang dibandingkan pada plasma darah, faktor dari kondisi dari sel darah merah yang cenderung abnormal, serta kadar dari fibrinogen yang mana umumnya meningkat bila adanya infeksi atau radang pada tubuh.

Sejarah mencatat, pengujian laboratorium terkait dengan LED ini ditemukan pertama kali oleh seorang dokter yang bernama Edmund Faustyn Biernacki asal Polandia. Dokter tersebut menemukan uji LED pada tahun 1897 dan dikembangkan oleh Robert Sanno pada 1918.

Di tahun 1921, Westergren memperkenalkan metode Westergren yang tujuannya untuk mengetahui dan mengukur kecepatan dari pengendapan sel darah merah.

Standar Pengukuran

Pada uji LED terdapat interval yang menjadi tolak ukur dari LED, di mana interval yang normal yakni:

  • Pada pria dewasa berkisar antara 0-15 mm per jam
  • Pada wanita dewasa berkisar antara 0-20 mm per jam
  • Pada anak-anak berkisar antara 0-10 mm per jam

Bila nilai dari LED lebih dari 50 mm per jam, maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan yang terkait dengan immunoglobulin, kadar protein yang terkandung dalam serum, ataupun gejala dari penyakit tiroid.

Sedangkan bila nilai LED lebih dari 100 mm per jamnya, maka dapat diketahui bahwa terdapat indikasi adanya infeksi yang serius pada tubuh, seperti paraproteinemia, hiperfibrinogenemia dan malignansi yang mengganggu kesehatan tubuh.

Bagaimana Cara Kerja Uji Tes LED?

Mengetahui uji tes LED dilakukan dengan cara mengambil terlebih dahulu darah dari pasien, lalu kemudian ditempatkan pada tabung silinder yang diameternya kecil. Tempatkan sel darah merah hingga mengendap dengan bertahap pada dasar tabung.

Bila terjadi adanya peradangan pada tubuh, maka sel darah merah tersebut akan tampak menggumpal yang mana menjadi lebih berat, sehingga akan terlihat cepat untuk mengendap pada dasar tabung. Hal tersebut diketahui adanya peradangan atau infeksi yang terjadi dalam tubuh. Namun guna melengkapi uji tersebut, dilakukan tes lain seperti tes C-Reactive protein.

Perlukah Tes LED Dilakukan?

Bila pada tubuh dijumpai adanya gejala infeksi artritis, maka perlu dilakukan uji LED. Beberapa indikasi dilakukan tes LED antara lain:

  • Sakit kepala yang timbul bersamaan dengan nyeri pada bahu
  • Sakit dan kaku yang dirasakan pada area persendian
  • Sakit pada bahu dan juga pinggul

Untuk itu perlu dilakukan tes laju endap darah untuk mengetahui lebih jelas peradangan yang dirasakan dalam tubuh.

Dokter Jovee, dr. Irma Lidia menambahkan, untuk membaca hasil lab dapat dikonsultasikan dengan dokter agar mendapatkan penjelasan dari makna hasil lab. Nantinya, hasil lab tersebut juga disesuaikan dengan keluhan dan gejala yang ada. Jika dibutuhkan, maka dokter akan menganjurkan pemeriksaan lainnya untuk menunjang penegakan diagnosis. 

Akses aplikasi Ngovee pada Google Play Store maupun App Store untuk memperoleh kebutuhan suplemen terbaik. Ikuti terus info kesehatan hanya di Ngovee.