Makan Saat Stress? Kenali Bahaya Emotional Eating

Makan merupakan salah satu aktivitas penting yang dilakukan orang-orang untuk menjaga kebutuhan asupan nutrisi dan juga energi pada tubuh. Namun dari beberapa jenis aktivitas makan, emotional eating merupakan salah satu bentuk aktivitas makan yang harus dihindari.

Emotional eating biasanya terjadi jika seseorang mengalami respon emosional yang tinggi baik secara internal maupun eksternal. Emotional eating ini umumnya dilakukan sebagai bentuk penghiburan diri jika seseorang mengalami hal-hal yang dapat memicu stress dan depresi seperti pertengkaran dan lain-lain.

Mengapa Emotional Eating Berbahaya?

Apa itu emotional eating? Emotional eating merupakan salah satu bentuk aktivitas makan yang dilakukan sebagai salah satu bentuk pengalih perhatian dan juga mengatasi emosi yang tidak nyaman. Cara ini biasanya dilakukan sebagai respon seseorang terhadap suatu isyarat emosional.

Bahayanya, emotional eating ini biasanya terjadi ketika seseorang mengalami depresi, stress dan kesepian sehingga Anda tidak memperhatikan asupan nutrisi apa saja yang dimakan serta jenis-jenisnya. Selain itu orang yang mengalami emotional eating biasanya akan memakan makanan yang tidak sehat sehingga dapat memicu berbagai dampak negatif pada tubuh baik secara fisik maupun psikologis.

Bahaya yang Ditimbulkan dari Emotional Eating

Emotional eating yang dilakukan sesekali mungkin tidak akan terlalu berpengaruh, namun tahukah Anda melepaskan stress melalui emotional eating secara terus menerus ternyata memberikan efek buruk bagi Anda. Lalu apa saja bahaya yang ditimbulkan dari emotional eating? Ini dia ulasannya

1. Rasa Bersalah

Emotional eating biasanya dilakukan dalam rangka melepas stress pada tubuh. Namun setelah stress berlalu, banyak orang yang mengalami perasaan bersalah karena menyadari banyaknya asupan makanan yang mereka makan.

Jika tidak segera diatasi, ledakan rasa bersalah ini akan berpotensi memicu ledakan makan lagi yang menjadi lebih emosional akibat harga diri yang rendah.

2. Mual Sepanjang Hari

Orang yang cenderung makan setiap kali stres dan cemas juga dapat mengalami mual sepanjang hari di waktu depannya. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan porsi makanan yang masuk kedalam tubuh melebihi kapasitas normal sehingga gejala mual ini akan menyertai di kemudian hari.

Pada dampak yang cukup parah, Anda bahkan tetap merasa mual berkepanjangan hingga berhari-hari.

3. Diabetes

Diabetes merupakan salah satu penyakit yang terjadi akibat gula dalam darah meningkat. Tingginya kadar gula di dalam darah ini umumnya dipicu oleh makanan manis dan tinggi karbohidrat yang dikonsumsi selama emotional eating.

4. Stroke

Stroke merupakan salah satu gangguan penyakit yang menyerang jantung. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh penyumbatan aliran darah oleh lemak. Orang yang melakukan emotional eating cenderung mengonsumsi makanan tidak sehat yang kaya akan lemak. Jika tidak segera diatasi, maka tumpukan lemak ini akan sangat berbahaya karena dapat menyempitkan pembuluh darah.

5. Obesitas

Makan saat sedang stres dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Kenaikan berat badan yang tidak terkontrol dapat mengarah ke obesitas. Obesitas merupakan penyakit kompleks yang disebabkan berlebihnya kadar lemak di tubuh. Obesitas dapat mengarah ke penyakit lain seperti penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi bahkan kanker.

– – – – – – Editorial Pick – – – – – –
Cara Cepat Hamil Hanya Dalam 1 Bulan
Cara Menghitung Usia Kehamilan
8 Fakta dan Mitos Tentang Ibu Hamil

Bagaimana Cara Menghentikannya?

Untuk mencegah emotional eating, maka Anda harus melakukan beberapa tindakan pencegahan. Hal ini sangat penting dilakukan mengingat stress dan depresi dapat datang kapan saja. Dengan mencegah makan saat sedang stress, maka berbagai dampak bahaya yang ditimbulkan dari emotional eating bisa dihindari.

1. Kenali Gejala Kelaparan

Tahukah Anda jika emotional eating yang dilakukan oleh seseorang tidak dilakukan saat mereka benar-benar lapar namun hanya dilakukan sebagai obat pelampiasan stress yang dihadapi. Oleh karena itu cara yang tepat untuk mencegah emotional eating adalah mengenali diri apakah Anda benar-benar lapar ketika akan melakukan emotional eating.

Jika Anda jujur, maka otak secara otomatis berinisiatif untuk mencari solusi lain yang lebih sehat. Selain itu jujur untuk menghindari makanan juga dapat membantu menghentikan kebiasaan buruk yang mengaitkan emosi dengan makanan.

2. Temukan Gangguan Pemicunya

Perilaku emotional eating juga bisa dicegah jika Anda bisa menemukan gangguan apa yang menjadi pemicu munculnya emosi negatif di dalam diri. Walaupun terkesan sepele, namun perilaku emotional eating ini cenderung dilakukan karena adanya rasa tidak berdaya dari emosi yang Anda alami.

3. Cari Alternatif Lain

Mengurangi stress tidak harus dengan memakan makanan dalam porsi yang banyak. Anda bisa mencari alternatif lain yang lebih sehat, misalnya saja dengan jalan-jalan atau liburan yang bisa menenangkan pikiran.

Melampiaskan emosi atau stress tidak harus dilakukan dengan makan berlebih. Selain menimbulkan berbagai dampak buruk bagi tubuh, melakukan aktivitas emotional eating juga dapat memicu dampak psikologis yang juga lebih buruk. Untuk mengurangi resiko depresi dan stress, Anda bisa memulainya dengan melakukan pola gaya hidup yang sehat.

Saat ini menjaga kondisi tubuh yang sehat menjadi semakin mudah karena bisa dilakukan dengan bantuan aplikasi seperti Jovee. Di Jovee, Anda bisa mendapatkan informasi seputar suplemen atau multivitamin terbaik yang layak untuk dikonsumsi. Untuk mengurangi risiko depresi dan stres, Anda juga bisa mengonsumsi suplemen vitamin D, B kompleks, dan omega yang direkomendasikan oleh Jovee. 

Jangan sampai ketinggalan tren dan informasi terbaru. Daftarkan email kamu di newsletter Ngovee.Untuk mendapatkan suplemen yang sesuai gaya hidup kamu, unduh aplikasi Jovee melalui Google Play Store maupun App Store sekarang.

Diedit oleh: Aileen Velishya