Mencegah Depresi dengan Berolahraga, Memang Bisa?

Ditinjau oleh: dr. Fala Adinda

Mencegah depresi, ternyata dapat dilakukan oleh siapapun dengan mudah. Sebelum itu, tahukah apa itu depresi? Depresi merupakan sebuah penyakit mental kronis yang menetap, namun gejalanya tidak terus-menerus terjadi setiap saat. Banyak orang yang mengalami depresi tetap dapat menjalani hidupnya dengan beraktivitas dan bekerja seperti biasa. Namun sebenarnya, yang mereka rasakan dalam hatinya sudah tidak ada lagi minat dan makna terhadap hal-hal yang mereka lakukan tersebut. 

Gejala depresi juga bisa kambuh sewaktu-waktu. Orang yang sudah mengalami depresi memiliki risiko 50 persen lebih besar terhadap kekambuhannya, bahkan intensitasnya bisa lebih serius. 

Berdasarkan data riset dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya terdapat kurang lebih 300 juta orang di dunia yang mengalami depresi dan jumlah tersebut meningkat sekitar 18 persen dalam rentang sepuluh tahun terakhir. 

Nah, jika angka ini terus meningkat, maka tidak mustahil jika depresi akan “naik pangkat”. Menjadi penyakit nomor dua tertinggi di dunia pada tahun 2020 mendatang. Menurut WHO, saat ini gangguan depresi berada pada urutan keempat. 

Cara Mencegah Depresi Dengan Berolahraga

Akan tetapi, tenang saja, karena ada kabar baik berikut ini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh oleh Black Dog Institute di sebuah rumah sakit jiwa di New South Wales, Australia, ditemukan bahwa depresi dapat diusir dengan cara yang sangat mudah. Caranya adalah dengan rutin berolahraga selama setidaknya satu jam dalam seminggu. Cara ini dipercaya dapat mencegah depresi di  masa yang akan datang. 

Selain itu, terdapat penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Psychiatry. Penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah latihan kecil dapat melindungi diri dari depresi dan juga menjaga kesehatan mental. Manfaat ini bisa dirasakan oleh pria maupun wanita, berapapun usianya. 

– – – – – – Editorial Pick – – – – – –
Jenis Kontrasepsi, Manakah yang Lebih Aman?
Kecanduan Gadget dan Sosial Media Terhadap Kesehatan
Tren Diet Sehat Jaman Now. Seberapa Sehat & Aman Kah?

Psikiater Samuel Harvey dari Black Dog Institute dan University of New South Wales di Australia, dan sebagai peneliti utama, menyatakan telah mengetahui bahwa olahraga memiliki peran mencegah depresi. Ini merupakan kali pertama mereka dapat mengukur potensi pencegahan aktivitas fisik dalam hal mengurangi tingkat depresi di masa depan. 

Tim dari penelitian ini terdiri atas ilmuwan dari Inggris, Australia, dan Norwegia. Dalam penelitian ini mereka menggunakan data dari Health Study of Nord-Trondelag County. Yang mana merupakan salah satu survei kesehatan berbasis populasi terbesar dan terlengkap yang pernah dilakukan, pada periode Januari 1984 dan Juni 1997. Mereka menggunakan sampel sebanyak 33 ribu orang dewasa.

Tes yang dilakukan pada 2 kelompok.

Kelompok peserta yang sehat diminta untuk melaporkan frekuensi dan intensitas aktivitas fisik yang mereka lakukan. Tidak hanya itu, mereka juga diminta untuk menuliskan kondisi yang dialaminya. 

Apakah mereka merasa terengah-engah, berkeringat, sesak nafas dan berkeringat, atau merasa seperti hanya melelahkan diri sendiri saja. Setelah itu, dilakukan tahap tindak lanjut, dimana mereka diminta untuk mengisi kuisioner untuk mengetahui kecemasan dan depresi yang muncul.

Tim peneliti juga memperhitungkan variabel yang mungkin mempengaruhi hubungan antara olahraga dan penyakit jiwa yang umum. Dalam hal ini, termasuk faktor sosial dan ekonomi, demografi, indeks massa tubuh, penyakit fisik yang baru, penggunaan zat, dan dukungan sosial yang dirasakan. 

Nah, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang sama sekali tidak melakukan olahraga sejak awal, memiliki 44 persen kemungkinan mengalami depresi daripada mereka yang lebih giat melakukan olahraga satu atau 2 jam per minggu. 

Mereka yang mengalami depresi, tim peneliti menemukan terdapat sekitar 12 persen kasus yang dapat dicegah. Meskipun jika peserta hanya melakukan satu jam saja aktivitas fisik setiap minggunya. Data ini juga sejalan dengan penelitian yang lainnya yang menunjukkan ke arah yang sama. 

Harvey mengatakan bahwa mereka masih terus berusaha untuk menentukan secara pasti mengapa olahraga dapat memiliki efek perlindungan terhadap depresi. Namun demikian, mereka juga yakin bahwa efek perlindungan ini berasal dari dampak gabungan dari berbagai manfaat fisik dan sosial dari aktivitas fisik. 

Harvey juga menegaskan bahwa hasil yang mereka dapatkan tersebut sangat penting. karena perubahan gaya hidup yang kecil pun dapat membawa dampak baik terhadap kesehatan mental yang signifikan. Dengan gaya hidup yang tidak banyak berubah dan menjadi norma di seluruh dunia, sehingga inilah yang kemudian membuat tingkat depresi semakin meningkat. 

– – – – – – Editorial Pick – – – – – –
Kecanduan Gadget dan Sosial Media Terhadap Kesehatan
Tren Diet Sehat Jaman Now. Seberapa Sehat & Aman Kah?
Jenis Kontrasepsi, Manakah yang Lebih Aman?

Survey Kesehatan Australia.

Berdasarkan Survei Kesehatan Australia, sebanyak 20 persen orang dewasa di Australia tidak melakukan aktivitas fisik yang reguler. Dan terdapat lebih dari sepertiga orang dewasa Australia yang menghabiskan kurang dari 1,5 jam per minggu untuk aktif secara fisik. 

Pada saat yang sama, terdapat sekitar 1 juta orang di Australia yang mengalami depresi. Dimana satu dari lima orang Australia yang berusia 16 hingga 85 tahun mengalami penyakit jiwa setiap tahunnya. 

Maka, Harvey pun mengatakan bahwa hasil survei ini berpotensi untuk diintegrasikan dalam rencana kesehatan mental individu dan kampanye kesehatan masyarakat yang lebih luas. 

Jika kita dapat menemukan cara untuk meningkatkan aktivitas fisik populasi, meskipun dalam jumlah yang kecil, namun tetap memiliki dampak pada fisik dan mental yang besar, dan juga bermanfaat untuk kesehatan. 

Selain dari olahraga, konsumsi vitamin D juga dapat membantu mencegah depresi. vitamin D juga memiliki peran untuk mengaktifkan gen yang mengatur sistem imun tubuh dan melepaskan neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin

Itulah yang memengaruhi fungsi dan perkembangan otak. Para peneliti pun juga menemukan reseptor vitamin D pada otak yang terhubung dengan depresi atau kesehatan mental.

Pertama, penelitian yang dilakukan di Belanda, menemukan level rendah dari vitamin D berkorelasi dengan munculnya gejala mayor/minor depresi pada 169 individu usia 65 tahun ke atas. 

Kedua, penelitian menunjukkan bawah orang dewasa yang kekurangan vitamin D dan menerima asupan tinggi vitamin D, terlihat mengalami peningkatan perilaku baik dari masalah kesehatan mentalnya dua bulan kemudian. 

Ketiga, sebuah penelitian kecil yang dilakukan pada 9 wanita yang mengalami defisiensi vitamin D. Kemudian ketika menerima 5000 IU vitamin D, menunjukkan gejala depresi yang membaik.

Dapatkan vitamin D dari Jovee. Berlangganan sekarang untuk mendapatkan promo menarik. Caranya mudah kamu hanya perlu mengunduh aplikasi Jovee. Dengan Jovee kamu dapat melihat rekomendasi suplemen sesuai dengan kebutuhan personalmu.

Diedit oleh: Aileen Velishya