Kenali Proses-proses Melahirkan Secara Caesar

Operasi caesar merupakan salah satu cara melahirkan melalui operasi yang mana abdomen atau perut bagian bawah disayat dan dilanjutkan dengan sayatan kedua di bagian uterus atau rahim untuk mengeluarkan bayi di dalamnya. Di Amerika Serikat sendiri, proses melahirkan caesar yang tercatat pada 2015 mengalami skala peningkatan semenjak awal 90an, dari yang tadinya satu dari lima wanita menjadi satu dari tiga wanita.

Kenyataan ini berbeda dengan cerita zaman Romawi Kuno dimana praktek tersebut hanya dilakukan pada ibu hamil yang meninggal atau tidak memiliki harapan untuk hidup, lantas bayi yang lahir dari praktek ini banyak yang tak bertahan setelahnya.

Meski pada tahun 1500an operasi caesar mulai mendapat perhatian bahkan ditulis dalam beberapa buku, operasi tersebut masih sangat berbahaya dan mengancam kehidupan.

Baru pada abad ke-19, praktek tersebut mulai mengalami kemajuan, beriringan dengan berkembangnya teknologi, terutama setelah ditemukannya anestesi. Munculnya obat ini menghilangkan syok yang menjadi penyebab utama gagalnya operasi caesar.

Walau begitu, penemuan besar tersebut belum bisa menurunkan tingkat kematian pasca operasi yang tinggi karena masalah infeksi. Baru pada akhir abad tersebut, muncul teori kuman penyakit dan bakteriologi modern yang menjadi cikal bakal operasi caesar yang lebih aman dan bahkan umum dipraktekkan hingga saat ini.

Alasan diharuskannya Operasi Caesar

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, operasi caesar sendiri mengalami kenaikan yang signifikan. Hal tersebut terjadi karena adanya hubungan faktor yang beragam. Dan karena banyaknya faktor, operasi caesar ada yang dapat direncanakan dan ada pula yang dilakukan secara spontan. Beberapa kondisi di bawah memungkinkan terjadinya operasi caesar.

a) Detak jantung bayi yang tidak normal. Detak jantung bayi yang normal ada di kisaran 120 sampai 160 detak per menit. Jika terjadi masalah dalam hal ini, sang ibu akan diberi oksigen, menambahkan cairan, dan mengganti posisinya. Operasi dilakukan bila detak jantungnya tak kunjung membaik.

b) Posisi bayi yang tidak normal saat melahirkan dan masalah kelahiran lainnya

c) Ukuran bayi yang terlalu besar daripada lubang vagina.

d) Macam-macam masalah plasenta. Salah satunya adalah placenta previa yang merupakan gejala plasenta menutup serviks.

e) Penyakit tertentu yang diderita sang ibu, seperti diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, atau infeksi HIV.

f) Luka herpes aktif di vagina atau serviks ibu.

g) Lahir kembar.

h) Riwayat operasi caesar. Menurut dr. Irma Lidia, Tim Dokter Jovee, setelah menjalani operasi caesar, lebih besar kemungkinan untuk melahirkan secara operasi caesar di kehamilan berikutnya.

Bila tetap melahirkan secara normal setelah operasi caesar sebelumnya, ada kemungkinan rahim bisa robek di sepanjang garis bekas luka operasi caesar tersebut. Namun, tetaplah memungkinkan bagi yang pernah operasi caesar untuk melahirkan secara normal, tergantung dari penilaian dokter kandungannya.

i) Pertambahan usia.

Sebelum Operasi Caesar

Proses operasi caesar dapat berjalan panjang dan melelahkan. Dan karena sebenarnya operasi caesar memiliki risiko yang tinggi pada kesehatan setelah melahirkan, ada beberapa prosedur yang perlu dilakukan.

a) Sebelum siap melakukan operasi, ibu akan diberitahu bagaimana prosedur berjalan dan diberi pertanyaan beserta formulir persetujuan. Formulir harus dibaca dengan teliti dan ditanyakan bila ada yang masih kurang jelas.

b) Ibu akan ditanya kapan terakhir ia makan atau minum. Jika operasi caesar telah direncanakan dan anestesi perlu diberikan, ibu akan diminta untuk tidak makan ataupun minum dalam 8 delapan jam sebelum operasi dilakukan. Pada saat ini, ibu perlu memberitahukan obat apa yang membuatnya alergi dan obat apa yang sedang digunakannya.

Selain itu, ibu juga perlu memberitahu bila memiliki riwayat gangguan perdarahan atau bila mengonsumsi obat antikoagulan atau obat yang mempengaruhi penggumpalan darah lainnya. Ibu mungkin akan diminta untuk berhenti menggunakannya sebelum proses melahirkan caesar.

c) Ibu mungkin akan diberi obat penurun asam di perut. Hal ini juga membantu mengeringkan sekresi di mulut dan bagian pernafasan.

d) Pastikan ada orang yang menemani ibu setelah operasi karena adanya kemungkinan sakit pada beberapa hari pertama dan bantuan untuk memelihara bayi diperlukan.

e) Ikuti juga petunjuk lainnya dari perawat agar ibu siap saat melahirkan sesar.

Selama Operasi Caesar

Umumnya ibu yang melakukan operasi caesar akan tersadar saat proses berlangsung dan kebanyakan operasi dilakukan saat ibu ada dalam pengaruh anestesi. Karenanya, tak ada perasaan apa-apa dari pinggang ke bawah, tapi proses yang berlangsung bisa terdengar begitu juga dengan bayi yang dikeluarkan. Proses operasi caesar terdiri dari langkah-langkah berikut:

a) Setelah memakai gaun rumah sakit, ibu akan ditaruh dalam posisi tidur di ruang operasi.

b) Kateter urine bila belum dilakukan sebelum masuk ruang operasi. Infus intravena (IV) juga dipasang di lengan atau tangan.

c) Untuk alasan keamanan, kaki akan diikat agar ibu tetap berada pada meja operasi.

d) Rambut di bagian operasi mungkin dicukur dan kulit dibersihkan dengan cairan antiseptik.

e) Bagian abdomen akan ditutupi material steril serta bagian atas dada untuk menutupi proses persalinan.

f) Selama operasi berlangsung, akan ada perawat yang memonitor detak jantung, tekanan darah, pernafasan, dan level oksigen darah.

g) Setelah anestesi aktif, tenaga medis akan membuat sayatan di atas tulang kemaluan, secara vertikal atau melintang. Sayatan lebih dalam lagi dilakukan melalui jaringan dan otot hingga sampai ke dinding rahim. Selanjutnya, sayatan terakhir dilakukan terhadap uterus secara horizontal atau vertikal.

h) Tenaga medis akan memotong kantung ketuban dan mengeluarkan bayi dari perut. Ibu mungkin dapat merasakan tekanan atau sensasi tarikan.

i) Tali pusar akan dipotong dan ibu akan diberikan obat melalui infus IV untuk mendorong kontraksi uterus dan mengeluarkan plasenta. Plasenta akan dibuang dan tenaga medis akan memeriksa apakah masih ada sisanya di dalam uterus.

j) Tenaga medis akan menutup sayatan di otot uterus dengan jahitan dan membenarkan posisi uterus di rongga panggul. Kemudian, ia akan menutup lapisan otot dan jaringan yang dilanjutkan dengan menutup sayatan di kulit dengan benang bedah atau staples bedah.

k) Pada tahap akhir, tenaga medis akan mengaplikasikan perban steril.

Setelah Operasi Caesar

Pasca Persalinan caesar, perawat akan memeriksa tekanan darah, pernafasan, nadi, perdarahan, dan kekokohan uterus. Ada kemungkinan bayi diperiksa terlebih dulu sebelum akhirnya bertemu ibunya di area pemulihan.

Seperti halnya kehamilan normal, di ruangan ini ibu bisa mulai menyusui bayinya. Ibu akan dipindahkan ke kamar rumah sakit setelah dua jam dan obat nyeri mungkin diberikan ketika efek anestesi mereda.

Kateter urine biasa dilepas sehari setelah melahirkan dan makanan dalam bentuk cair mungkin diberikan. Infus IV mungkin dimasukkan antibiotik ketika masih di rumah sakit dan resepnya akan dibuat untuk selanjutnya dikonsumsi di rumah.

Mengetahui langkah apa yang tepat untuk melahirkan buah hati sangatlah diperlukan. Khususnya bagi ibu hamil yang bingung dengan proses melahirkan caesar ataupun normal, ada baiknya calon ibu mengonsultasikan cara kehamilan apa yang harus diambil kepada ahlinya.

Baca juga:

Ketahui Pemeriksaan Leopold dan Manfaatnya Untuk Ibu Hamil

Begini Tanda-tanda Ibu Mau Melahirkan

Berbagai Cara Merawat Bayi Baru Lahir

Ingin mengetahui informasi kesehatan terpercaya? Daftarkan email anda di Ngovee. Untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter mengenai kesehatan, unduh aplikasi Lifepack. Tebus resep obat, bebas antri. Tersedia melalui Google Play Store maupun App Store.

Ditulis oleh: Arofah Hafizh 

Sumber:

Cari N. 2017. C-Section: Procedure & Recovery.

N.d. History and Evolution of Cesarean Sections.

N.d. Cesarean Section.