Mengenal Donor Sperma: Prosedur, Risiko dan Hukumnya di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Irma

Memiliki buah hati adalah harapan nyaris semua pasangan yang baru menikah sebagai pelengkap kebahagiaan keluarga kecil. Tetapi, tidak semua pasangan langsung dikaruniai buah hati setelah menikah. Ada juga yang harus menunggu waktu bertahun-tahun dan menjalani program hamil yang berat sebelum dikaruniai buah hati.

Bahkan ada pula pasangan yang tidak dikaruniai buah hati karena berbagai macam hal. Memiliki buah hati memang mensyaratkan kesehatan reproduksi baik dari istri ataupun suami. Nah, untuk pasangan yang kurang beruntung dan tidak bisa mendapatkan keturunan, ada satu metode yang dapat membantu, yaitu donor sperma.

Metode donor sperma sudah cukup populer di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Belanda dan lain sebagainya. Metode ini biasanya digunakan untuk membantu pasangan yang tidak mampu menghasilkan keturunan.

Selain itu, donor sperma juga bisa digunakan untuk seseorang yang tidak menikah dan mau punya anak. Pasangan-pasangan non – heteroseksual seperti gay dan lesbi juga bisa menggunakan metode ini ketika ingin memiliki anak.

Sayangnya kamu belum bisa memanfaatkan metode donor sperma di Indonesia, meskipun secara teknis dan kapasitas tenaga medis di Indonesia sudah mampu. Secara legal, satu-satunya donor sperma yang boleh digunakan di Indonesia hanyalah metode bayi tabung dan pendonor spermanya adalah pasangan yang sah secara hukum.

Oke, mari kita berkenalan dulu dengan apa itu donor sperma

Apa itu Donor Sperma

Donor sperma adalah prosedur di mana seorang pria menyumbangkan air mani (cairan yang mengandung sperma yang dilepaskan saat ejakulasi) untuk membantu seseorang atau pasangan agar mendapatkan kehamilan.

Sperma yang disumbangkan dapat disuntikkan ke dalam organ reproduksi wanita (inseminasi intrauterine) atau digunakan untuk membuahi sel telur yang dimatangkan di laboratorium (in vitro fertilization) atau bayi tabung.

Pria yang memberikan donasi sperma dapat diketahui atau tidak dikenal oleh penerima. Donasi sperma yang diberikan kepada penerima yang dikenal disebut donasi terarah.

Tetapi, sebelum seorang pria dapat mendonorkan sperma, ia harus menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kondisi medis dan faktor risiko lainnya. Calon pendonor akan diberikan kuesioner yang harus diisi berupa latar belakang, riwayat penyakit, apakah pernah mengkonsumsi narkoba, merokok, minum alkohol dan lain sebagainya.

Bagaimana Prosedurnya?

Food and Drug Administration mewajibkan pemeriksaan dasar untuk penyakit menular dan faktor risiko tertentu sebelum seorang pria dapat mendonorkan spermanya. Beberapa negara bagian di Amerika Serikat dan pemerintah lokal membutuhkan tes tambahan.

Donor sperma bukan proses yang mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pria yang ingin melakukan donor sperma harus memenuhi sejumlah syarat dan prosedur.

The American Society for Reproductive Medicine mensyaratkan beberapa kondisi bagi para calon pendonor sperma. Berikut beberapa kondisi yang harus diperiksa sebelum diperbolehkan melakukan donor:

  • Usia. Bank sperma selaku lembaga yang menyimpan sperma donor mensyaratkan para calon donor itu berusia di antara 18 sampai 39. Sebab, biasanya kualitas sperma pria yang sudah berusia di atas 40 tahun sudah berkurang.
  • Pemeriksaan Fisik. Pada pemeriksaan ini, calon pendonor akan diperiksa lebih mendalam. Termasuk pemeriksaan urin dan darah untuk membuktikan bahwa calon pendonor tidak memiliki penyakit menular yang berbahaya seperti HIV dan lain sebagainya.
  • Pemeriksaan Sperma. Sebelum melakukan pemeriksaan sperma, pendonor dilarang untuk berhubungan seksual atau masturbasi selama 2 sampai 3 hari. Setelah itu, pendonor diminta untuk membawakan sampel air maninya. Sampel tersebut akan diperiksa apakah layak atau tidak untuk melakukan donor. Yang diperiksa antara lain adalah kuantitas, kualitas dan pergerakan spermanya.
  • Tes Genetik. Pada pemeriksaan ini, setiap pendonor akan diperiksa genetiknya untuk memastikan tidak ada penyakit bawaan genetik sebelum melakukan donor sperma.
  • Riwayat Kesehatan Keluarga. Setiap pendonor akan diminta untuk melengkapi detil riwayat kesehatan keluarga sampai dua generasi. Riwayat kesehatan dapat memberikan data tambahan tentang penyakit genetik bawaan yang bisa menjadi berbahaya untuk calon anak nantinya.
  • Tes Psikologis. Pada tes ini, pendonor akan diberikan beberapa pertanyaan untuk memastikan kesiapan pendonor serta kekhawatirannya di masa yang akan datang. Contoh pertanyaannya adalah apakah kamu siap jika calon anaknya nanti mengetahui informasi ini dan lain sebagainya.
  • Riwayat Personal dan Seksual. Pendonor juga diwajibkan untuk menyertakan riwayat detail tentang aktivitas seksualnya, penggunaan narkoba, kebiasaan, pendidikan, hobi dan lain sebagainya.

Jika lulus proses penyaringan, pendonor akan diminta untuk menandatangani formulir persetujuan, yang kemungkinan besar akan menyatakan bahwa pendonor yakin tidak memiliki penyakit infeksi menular seksual atau kondisi genetik.

Apa Saja Resikonya?

Bagi pria, tidak ada resiko dari melakukan donor sperma. Sama saja seperti melakukan masturbasi. Hanya saja, resikonya lebih banyak mengenai psikologis di masa yang akan datang.

Seperti contohnya apakah kamu siap jika tidak pernah bertemu dengan satu atau mungkin beberapa anak biologis mu di masa depan? Atau mungkin sebaliknya, bagaimana kalau suatu hari nanti anak biologis mu ingin bertemu? Lalu, bagaimana kalau keluaga mu nanti tahu tentang donor sperma ini?

Sebelum memutuskan untuk melakukan donor sperma, sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan keluarga dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di masa yang akan datang.

Bagi Wanita atau penerima donor, risiko yang paling terukur adalah mengetahui latar belakang tentang calon pendonor. Apakah ia punya penyakit menular, bawaan cacat genetik dan lain sebagainya.

Selain itu, wanita yang memiliki suami harus yakin juga bahwa prosedur ini dilakukan atas persetujuan kedua belah pihak. Dikhawatirkan sang suami tidak memberi kasih sayang karena dianggap anak yang dihasilkan dari donor sperma bukanlah anaknya.

Bagaimana Donor Sperma Dilakukan

Sperma dari pendonor disimpan di bank sperma dengan cara dibekukan di nitrogen cair yang bersuhu minus 130 derajat celcius. Ketika ada wanita yang membutuhkan, sperma tersebut dibersihkan terlebih dahulu agar menambah tingkat keberhasilan membuahi sel telur.

Donor sperma adalah prosedur di mana seorang pria menyumbangkan spermanya untuk membantu orang lain agar mendapatkan kehamilan.
Sperma yang sudah didonorkan kemudian disimpan dalam nitrogen cair yang dibekukan

Nah, terdapat tiga cara agar sperma yang didonorkan itu berhasil membuahi sel telur dan menghasilkan keturunan untuk wanita yang menginginkannya.

1.   Intracervical Insemination (ICI)

Ini adalah metode yang memasukkan sperma ke dalam vagina wanita dengan menggunakan selang khusus. Metode ini akan meletakkan sperma di mulut rahim dan membiarkan sel sperma berjalan sendiri menuju rahim dan membuahi sel telur.

Sebelum melakukan metode ICI, wanita yang ingin menjalani prosedur ini biasanya diberikan obat oleh dokter untuk mematangkan sel telurnya. Setelah sel telurnya matang dan terovulasi dengan baik, sel sperma akan dimasukkan ke mulut rahimnya.

2.   Intrauterine Insemination (IUI)

Metode ini masih mirip dengan IUI, tetapi dalam tahap yang lebih lanjut. Biasanya metode ini digunakan untuk wanita yang memiliki kelainan pada rahim sehingga sulit untuk mendapatkan keturunan. Metode ini akan meletakkan sel sperma langsung ke rahim agar meningkatkan tingkat keberhasilan kehamilan.

3.   In Vitro Fertilization (IVF)

Metode IVF atau yang lebih biasa dikenal dengan bayi tabung melakukan pembuahan di luar rahim. Jadi sel telur yang sudah matang diambil oleh dokter dan disimpan di dalam sebuah cawan khusus. Kemudian, barulah sel sperma dimasukkan juga ke dalam cawan tersebut agar terjadi pembuahan.

Setelah terjadi pembuahan dan embrio dianggap cukup matang untuk terus hidup, embrio tersebut dimasukkan kembali ke dalam rahim agar bisa berkembang layaknya bayi manusia di dalam kandungan.

– – – – – – Editorial Pick – – – – – –
Program Bayi Tabung: Sejarah, Prosedur, Risiko Hingga Perkiraan Biaya
Tips Untuk Program Hamil Anak Kembar Yang Ampuh, Apa Ada?
15+ Macam Makanan untuk Program Hamil
Vitamin Ibu Hamil yang Bagus, Apa Saja Rekomendasinya?
10+ Cemilan untuk Program Hamil yang Lezat dan Sehat
10 Buah Terbaik Penyubur Rahim Menurut Sains

Bolehkah Donor Sperma di Indonesia dan Bagaimana Menurut Islam?

Jawabannya singkat: Tidak boleh. Rencana Undang-Undang tentang Ketahanan Keluarga dengan jelas melarang praktek donor sperma. Meskipun belum Undang-Undang ini belum disahkan, tetapi secara etika Indonesia melarang praktek ini.

Fatwa MUI tentang Bayi Tabung atau Inseminasi Buatan menyebutkan, bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami istri yang sah hukumnya haram, karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antar lawan jenis di luar pernikahan yang sah (zina), dan berdasarkan kaidah Sadd azzari’ah, yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina sesungguhnya.

Jadi sejauh ini yang diperbolehkan di Indonesia adalah inseminasi buatan dengan menggunakan sperma dan ovum dari pasangan yang sah secara hukum.

Ingin mengetahui informasi kesehatan terpercaya? Daftarkan email Anda di Ngovee. Untuk mendapatkan suplemen dan vitamin spesial buat Anda, unduh aplikasi Jovee. Tersedia melalui Google Play Store maupun App Store. Dapatkan vitamin terbaik hanya dari Jovee.

Penulis: Fadhel Yafie

Referensi:

Healthline, Everything You Need to Know about Artificial Insemination.

Majelis Ulama Indonesia, Bayi Tabung atau Inseminasi Buatan.

Mayo Clinic, Sperm Donation.

Science Direct, Sperm Donation.

The Jakarta Post, Family Resilience Bill Would Criminalize Surrogacy, Sperm Donation.