Seberapa Pentingnya Social Distancing Dalam Melawan Coronavirus
Dr. Fala Adinda

Social distancing atau jaga jarak sosial menjadi himbauan yang diberikan pemerintah Indonesia dalam mencegah penyebaran Covid-19. Hal ini penting untuk dilakukan karena keadaan negara kita sangat bergantung pada seberapa patuhnya masyarakat dalam menjalankan social distancing. 

Berkaca pada pengalaman Korea Selatan, kita dapat belajar bagaimana ketidakpatuhan 1 orang dapat menjadi faktor penyebab utama dari tersebarnya Coronavirus di Korea. Dalam artikel ini, tim Ngovee telah merangkum beberapa fakta menarik mengenai social distancing dan seberapa penting hal tersebut untuk dilakukan dalam melawan Coronavirus.

Apa itu Social Distancing

Mungkin belakangan ini, kamu melihat berbagai macam acara konser, olahraga, dan festival ditunda maupun dibatalkan dengan alasan untuk mencegah penyebaran Covid-19 lebih lanjut. 

Hal ini sebenarnya adalah langkah tepat yang bisa diambil para promotor atau penyelenggara acara, untuk membantu menghentikan atau memperlambat penyebaran suatu penyakit, dengan memberikan waktu bagi sistem kesehatan baik itu rumah sakit atau tenaga medis untuk mempersiapkan diri merawat pasien ke depannya.

Acara yang ditunda tersebut dapat menjadi contoh dari social distancing atau jaga jarak sosial. Social distancing dapat diartikan sebagai meningkatkan jarak fisik antara setiap individu untuk mencegah penyebaran suatu penyakit. Dalam hal ini, menjaga jarak sejauh paling tidak 1,8 meter dapat menurunkan resiko kamu terjangkit Covid-19

Beberapa contoh social distancing yang lain:

  • Work from home alias bekerja dari rumah, dibanding ke kantor
  • Meliburkan sekolah dan institusi pendidikan, diganti menjadi kelas online
  • Melakukan kontak sosial via aplikasi online
  • Menunda acara pertemuan besar

Karantina Mandiri

Orang dengan resiko tinggi Covid-19 seperti yang pernah kontak dengan penderita Covid19 atau memiliki riwayat perjalanan dari negara terpapar, akan dianjurkan untuk melakukan karantina mandiri atau yang dikenal sebagai self-quarantine selama 14 hari. Dalam waktu 14 hari, kamu dapat mengetahui apakah kamu sakit dan bisa menularkan virus ke orang lain. Waktu yang diperlukan adalah 14 hari karena masa inkubasi Coronavirus diketahui 2-14 hari.

Karantina mandiri yang harus dilakukan adalah:

  • Menjaga kebersihan standar dan mencuci tangan dengan rutin
  • Tidak berbagi peralatan seperti handuk atau alat makan
  • Diam di rumah
  • Tidak menerima tamu
  • Menjaga jarak paling tidak 1,8 meter dengan orang di dalam rumah

Ketika periode 14 hari telah lewat, dan kamu tidak memiliki gejala, maka kamu bisa mengikuti instruksi dokter dan kembali ke rutinitas awal.

Apa perbedaannya dengan isolasi?

Untuk orang yang positif Covid-19, perlu diisolasi dengan cara memisahkan orang yang terinfeksi dengan orang yang tidak terinfeksi. Isolasi dapat dilakukan di rumah, di rumah sakit atau fasilitas yang telah disediakan pemerintah. Alat pelindung diri akan digunakan untuk merawat pasien yang diisolasi.

Flattening the Curve

Arti dari flattening the curve atau meratakan kurva adalah menggunakan pendekatan protektif untuk memperlambat penyebaran Covid-19, sehingga rumah sakit dapat menyediakan kamar, kebutuhan dan tenaga medis untuk semua pasien yang membutuhkan pertolongan.

Kurva yang melonjak tinggi akibat jumlah penderita yang melonjak drastis disebut kurva eksponensial. Hal ini yang membuat para ahli kesehatan cemas.

flattening the curve

Sejumlah besar orang yang sakit dalam satu waktu dapat membuat layanan kesehatan kewalahan. Terlalu banyak orang sakit dalam satu waktu dapat menyebabkan kurangnya ketersediaan rumah sakit, obat, tempat tidur bahkan dokter. 

Dalam grafik, jika jumlah penderita yang datang banyak secara bersamaan dalam satu waktu, maka akan menyebabkan kurva menjadi curam dan tinggi ke atas, sedangkan jika jumlah pasien yang datang tidak secara bersamaan, atau dalam waktu yang lebih lambat, maka grafik akan menghasilkan kurva memanjang yang lebih rata.

Kurva yang rata berarti, semakin sedikit pasien yang datang secara bersamaan. Dengan begitu, artinya pasien memiliki peluang lebih tinggi untuk mendapatkan perawatan maksimal di rumah sakit, yakni mendapat kasur, obat dan tersedianya tenaga medis untuk merawat mereka.

Belajar Dari Kasus Penyebaran Coronavirus di Korea Selatan

Pada bulan Februari, Korea Selatan mengumumkan ribuan kasus Coronavirus dalam jangka waktu hanya beberapa hari. Lonjakan jumlah kasus ini pertama kali muncul dari satu kluster yaitu gereja di kota Daegu. Hal ini menyebabkan Korea Selatan menempati posisi kedua dengan kasus Covid19 terbanyak setelah China.

Pertama, virus dikonfirmasi pada 20 Januari 2020, ketika seorang wanita dari Wuhan masuk ke Seoul, setelah itu diisolasi oleh pemerintah setempat. Dalam empat minggu, Korea Selatan dapat menahan angka penyebaran hingga hanya 30 orang yang terkena Coronavirus. Hal ini berubah di pasien ke-31.

grafik orang terinfeksi corona

Sumber: Graphic Reuters

Masih belum jelas dimana pasien #31 terinfeksi, namun beberapa hari sebelum dia didiagnosis, ia pergi ke tempat ramai di Daegu dan juga di Seoul. Beberapa hari setelahnya ia juga masih beraktivitas seperti biasa ke gereja dan bertemu teman di hotel restoran. Walaupun pada beberapa hari itu ia sempat ke dokter, dan disarankan untuk menjalankan tes Covid19 karena ia memiliki demam, pasien #31 tidak menjalankannya. 

Ketika gejalanya semakin memburuk, para dokter sekali lagi menyarankan ia untuk dites, akhirnya ia di tes dan positif mengidap Covid19. Setelah beberapa hari itu, jumlah kasus Coronavirus di Korea Selatan meningkat secara ratusan, dan area orang yang positif adalah sekitar gereja tempat pasien #31 beribadah. 

Ternyata terdapat 9000 orang yang mengikuti kegiatan gereja tersebut, dimana 1200 orang mengalami gejala seperti flu. Pada tanggal 18 Maret, 60% kasus Coronavirus di Korea Selatan berasal dari wilayah gereja tempat pasien #31 ibadah.

kasus corona di korea

Sumber: Reuter Graphics

Yang dapat kita pelajari dari kasus Korea Selatan adalah bagaimana aksi satu orang dapat berdampak sangat besar pada banyak orang, dalam hal ini seluruh negara.

– – – – – – Editorial Pick – – – – – –
6 Tips Work From Home (WFH) untuk Cegah Corona
Immunity Booster: Vitamin Yang Bagus Untuk Mencegah Corona
Mengenal Tes Coronavirus dan Rumah Sakit Rujukan Corona

Pentingnya Social Distancing

Penyebaran dapat diperlambat jika orang patuh melakukan social distancing dengan cara menjauhi tempat publik dan membatasi gerakan mereka. Karantina paksa atau lockdown bukan merupakan hal yang praktis dan mudah untuk dilakukan karena membutuhkan banyak sumber daya. Pemerintah bukan hanya harus memblokade setiap jalan, mereka juga harus memastikan kebutuhan bahan baku sampai ke tiap warga.

Menurut Lawrence O Gostin, profesor dari Georgetown University, lockdown sangat jarang dilakukan dan tidak efektif. 


Tapi, hal-hal seperti menjaga kebersihan pribadi dan social distancing dapat membantu memperlambat penyebaran. Jika orang lebih sedikit berinteraksi satu sama lain, virus memiliki peluang yang lebih sedikit untuk menyebar. 

Oleh karena itu, pemerintah menghimbau masyarakat untuk menjauhi kegiatan publik dan tinggal di rumah untuk sementara. Semakin banyak orang yang melakukan social distancing, semakin tinggi pula angka orang sehat. Negara-negara lain juga telah melakukan hal ini, seperti Italia yang menutup semua restoran, China yang menutup segala kegiatan dan tempat orang berkumpul, bahkan Korea Selatan juga banyak orang melakukan social distancing dengan sendirinya.

Social distancing yang dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh semua rakyat di suatu negara, dapat memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding karantina paksa. Walaupun tingkat kematian Covid19 tidak tinggi, namun patut diketahui bahwa resiko tertinggi kematian berada pada orangtua dengan usia diatas 60 tahun atau orang dengan penyakit kronis.

Pandemi coronavirus dapat diperlambat dengan cara mengikuti himbauan pemerintah untuk melakukan social distancing, karantina mandiri dan isolasi. Aksi satu orang dapat berarti banyak bagi kebaikan semua masyarakat. Dengan melakukan bagian kamu, kamu telah membawa perubahan besar untuk kesehatan kamu dan masyarakat.

Untuk informasi kesehatan lainnya, simak selengkapnya hanya di Ngovee.

Tetap jaga daya tahan tubuh dengan konsumsi suplemen dari Jovee. Tersedia di Playstore dan Appstore.

Referensi: 

Hopkins Medicine, Coronavirus, Social Distancing and Self-Quarantine, Lisa Lockerd Maragakis, M.D, M.P.H., 2020

Reuters Graphics, The Korean Clusters, 2020

The Washington Post, Why Outbreaks Like Coronavirus Spread Exponentially, and How To Flatten The Curve, Harry Stevens, 2020.

Ditulis oleh: Aileen Velishya