Waspada Varian Baru Virus Corona yang Lebih Menular!

Ditinjau oleh dr. Denny Archiando

Belum lama ini kita mendengar kabar baik tentang penanganan pandemi COVID-19, yaitu ditemukannya vaksin oleh beberapa negara. Program vaksinasi pun akan dilaksanakan dalam waktu dekat secara bertahap di banyak tempat. Indonesia termasuk salah satu di antaranya dengan mengimpor vaksin Sinovac dari Tiongkok.

Namun, kabar baik tersebut mendapatkan perlawanan karena ditemukannya varian baru virus corona yang diberi nama VUI-202012/01 (Variant Under Investigation in December 2020). Strain baru dari virus corona ini pertama kali ditemukan di Inggris pada November silam.

Saat ini, varian baru virus corona telah menyebar ke beberapa negara, antara lain Irlandia Utara, Israel, Denmark, Belanda, Australia, Spanyol, Perancis, Afrika Selatan, Jepang dan lain sebagainya. Meskipun beberapa negara Eropa sudah melakukan lockdown ketat dan melarang warga negara Inggris untuk datang ke negaranya, tetap saja virus ini berhasil masuk ke negara-negara tersebut.

Negara tetangga Indonesia seperti Singapura dan Malaysia juga sudah mengkonfirmasi ditemukannya kasus dengan strain baru tersebut. Sejauh ini Indonesia belum mengkonfirmasi kasus dari varian baru ini.

Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, belum ada temuan kasus dengan varian baru virus corona di Indonesia. Namun, pemerintah sedang melakukan pengawasan ketat terhadap virus corona jenis baru ini.

Apa yang Berbeda dari Varian Baru Virus Corona?

Varian baru ini mengalami 17 mutasi genetik yang mempengaruhi bentuk virus, termasuk pada protein lonjakan yang dapat menyebabkan peningkatan kemampuan penyebaran virus. Hal ini membuat varian baru ini lebih menular.

Ketua Pokja Genetik FK-KMK UGM, dr Gunadi mengatakan mutasi genetik tersebut antara lain adalah 9 mutasi pada protein S (deletion 69-70, deletion 145, N501Y, A570D, D614G, P681H, T716I, D1118H).

“PCR untuk diagnosis infeksi COVID-19 mendeteksi kombinasi beberapa gen pada virus Corona, misalnya gen N, gen orf1ab, gen S, dll. Karena varian baru tersebut terdiri dari multipel mutasi pada protein S, maka diagnosis COVID-19 sebaiknya tidak menggunakan gen S, karena bisa memberikan hasil negatif palsu,” ujar dr. Gunadi.

Dari 9 mutasi tersebut pada VUI 202012/01, ada satu mutasi yang dianggap paling berpengaruh yaitu mutasi N501Y. Hal ini karena mutasi N501Y terletak pada Receptor Binding Domain (RBD) protein S. RBD merupakan bagian protein S yang berikatan langsung dengan ACE2 receptor untuk menginfeksi sel manusia.

Mutasi ini diduga meningkatkan transmisi antar manusia sampai dengan 70%. Namun, mutasi ini belum terbukti lebih berbahaya atau ganas. Demikian juga, mutasi ini belum terbukti mempengaruhi efektivitas vaksin Corona yang ada.

Menurut epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, tes PCR belum dinyatakan valid untuk mendeteksi varian baru virus corona asal Inggris ini. Varian virus ini paling mungkin dideteksi lewat whole genome sequencing (WGS).

WGS adalah jenis pendeteksi melalui pengurutan seluruh rangkaian materi genetik suatu organisme. Namun, penelitian WGS ini hanya bisa dilakukan di laboratorium riset khusus yang ada di beberapa universitas dan lembaga riset seperti Universitas Airlangga, Universitas Indonesia atau Lembaga Eijkman.

Sebuah penelitian yang dirilis oleh Center for Mathematical Modeling of Infectious Diseases at the London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan bahwa varian baru virus corona ini 56 persen lebih menular dibanding versi aslinya. Pemerintah Inggris merilis perkiraan awal bahwa varian itu 70 persen lebih menular. Namun, belum ada temuan yang membuktikan bahwa virus ini lebih mematikan.

Penelitian ini belum melewati tahap peninjauan oleh rekan sejawat dan belum dipublikasi di jurnal ilmiah. Tetapi, beberapa pakar di Inggris meyakini bahwa hasil penelitian tersebut harus dijadikan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan guna memutus rantai penularan.

Mengapa Bisa Muncul Varian Baru?

Semua sel dalam makhluk hidup melakukan replikasi pada dirinya sendiri. Seperti kita sering mendengar sel kulit mati. Nah sebelum mati, sel kulit tersebut mereplikasi dirinya sebagai langkah peremajaan. Pada skala besar, kita juga mereplikasi diri pada sel-sel reproduksi.

Virus berkembang biak dengan mereplikasi diri. Hanya saja, virus tidak mampu berkembang biak secara mandiri. Mereka membutuhkan inang untuk berkembang biak. Kebetulan SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19 ini menjadikan manusia sebagai inangnya.

Di setiap replikasi sel (termasuk virus) ada kemungkinan kesalahan penyalinan sehingga sel replikasi yang baru tidak sama persis dengan sel sebelumnya yang direplikasi. Kesalahan penyalinan ini lah yang disebut sebagai mutasi genetik.

Ya, mutasi genetik selalu terjadi di sepanjang kehidupan makhluk hidup. Seringnya mutasi genetik ini tidak memberikan keuntungan bagi individu untuk bertahan hidup, sehingga mutasi genetik tersebut tidak dapat mewariskan gennya.

Namun, terkadang ada mutasi genetik yang malah memberikan keuntungan bagi individu. Sebut saja virus SARS-CoV-2 yang bermutasi dari yang tadinya hanya cocok di reseptor kelelawar hingga menjadi cocok di reseptor manusia. Hasilnya adalah keuntungan untuk virus SARS-CoV-2 dalam berkembang biak dengan menjadikan manusia sebagai inangnya.

Salah satu hipotesis yang mungkin tepat tentang asal mula kemunculan varian baru virus corona berkaitan dengan terapi plasma konvalesen. Hipotesis itu menyatakan, varian baru kemungkinan muncul dari pasien kritis COVID-19 yang menerima terapi plasma konvalesen dari donor yang telah sembuh dari penyakit itu.

Untuk penyakit yang berlangsung lama, virus memiliki lebih banyak kesempatan untuk bereplikasi dan meningkatkan kemungkinan terjadinya mutasi genetik. Sementara itu, penggunaan terapi yang konsisten dan terus-menerus dapat memberi tekanan lebih besar pada virus untuk bermutasi.

Adakah Gejala Baru?

Sejauh ini belum ditemukan adanya gejala baru dari penderita COVID-19 yang disebabkan oleh varian baru virus corona
Sejauh ini belum ditemukan adanya gejala baru dari penderita COVID-19 yang disebabkan oleh varian baru virus corona

COVID-19 memunculkan beberapa gejala pada penderitanya. Setiap orang mungkin mengalami gejala yang berbeda dengan penderita lainnya. Para peneliti belum menentukan apakah varian baru virus corona ini memunculkan gejala baru atau tidak.

Infeksi virus dapat mengubah respons imun dalam tubuh. Hal ini yang membuat sulit untuk menentukan gejala dari pasien yang terinfeksi virus. COVID-19 juga tercatat di sebagian kecil orang menunjukkan gejala seperti ruam-ruam, gatal, kemampuan indera pendengaran menurun bahkan sampai mempengaruhi kesehatan mental seperti delirium.

Sebagian besar kasus dengan varian baru yang tercatat sejauh ini menunjukkan gejala khas yang sama seperti demam, kehilangan indera perasa dan penciuman, batuk, lemas dan nyeri otot. Belum ada yang melaporkan gejala baru dari varian baru virus corona.

Bagaimana Efektivitas Vaksin pada Varian Baru Virus Corona?

Vaksin menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk mengentaskan pandemi global
Vaksin menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk mengentaskan pandemi global

Keefektifan vaksin terhadap mutasi genetik dalam varian baru virus corona masih menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan dan membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya.

Program vaksinasi baru saja ditawarkan untuk beberapa orang terpilih di Inggris dan beberapa negara saat ini, sehingga belum banyak sampel yang bisa diteliti apakah vaksin COVID-19 sama efektifnya pada varian baru virus corona ini. Sejauh ini, rata-rata vaksin yang sudah diizinkan oleh World Health Organization (WHO) memiliki efektivitas lebih dari 90 persen.

Ahli biologi, sejauh ini, dengan cepat mengkonfirmasi bahwa sementara mutasi membawa perubahan pada struktur protein lonjakan, tidak ada perubahan berarti yang telah diamati dengan reseptor ACE2, yang merupakan target dari virus corona.  Ini berarti bahwa vaksin COVID-19 kemungkinan besar akan efektif dalam memerangi virus corona strain baru ini.

Jadi, menurut para ilmuwan, selama mutasinya tidak agresif, vaksin masih dapat bekerja dalam melindungi populasi dari infeksi sampai batas tertentu dan itu semua tergantung pada tingkat kemanjuran vaksin.

Apa yang Perlu Dilakukan?

Kemampuan penularan yang jauh lebih cepat dari varian baru ini membuat kita harus lebih waspada dalam menerapkan protokol kesehatan. Sejauh ini, metode paling efektif untuk memutus rantai penularan adalah dengan membatasi mobilitas.

Beberapa negara yang sudah mengalami penurunan tren dalam kasus aktif penderita COVID-19 mulai menerapkan karantina wilayah setelah mendengar kabar adanya varian baru virus corona. Kalau kita ingin pandemi ini cepat berakhir, kita harus bekerja sama secara kompak untuk memutus mata rantai penularan.

Berhubung varian baru virus corona ini sudah sampai ke negara tetangga, besar kemungkinan bahwa virus ini mungkin sudah masuk atau tinggal menunggu waktu untuk sampai ke Indonesia. Berikut langkah-langkah pencegahan penularan atau protokol kesehatan yang harus kita lakukan:

1.   Meningkatkan Daya Tahan Tubuh. Virus adalah benda asing berbahaya yang memasuki tubuh, oleh karena itu sel imun kita bisa mengenali dan melawannya. Sehingga sangat penting untuk menjaga daya tahan tubuh di tengah pandemi untuk mencegah kita tertular oleh virus berbahaya ini. Banyak sekali cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh, seperti mengkonsumsi suplemen dan vitamin. Kamu bisa mendapatkannya dengan mudah dan murah di Jovee.

2.   Menghindari Kerumunan atau Menjaga Jarak. Virus corona terbukti menular melalui droplets. Nah, droplets ini sangat mungkin menular dari orang ke orang dalam kerumunan. Minimal sekali hindari berdekatan dengan orang dengan jarak 2 meter. Jarak ini diasumsikan membuat droplets yang keluar dari orang yang menderita COVID-19 jatuh ke bawah dan tidak terhirup oleh orang lain.

3.   Memakai Masker. Masker dapat mencegah terhirupnya droplets dari penderita COVID-19. Tetapi ingat, yang ditutup oleh masker adalah mulut dan hidung. Jadi jangan sampai hanya menutup mulut saja, apalagi cuma dagu yang ditutup.

4.   Rajin Mencuci Tangan. Tangan adalah salah satu pelaku utama dalam penyebaran COVID-19. Kenapa bisa begitu? Sebab, tangan sering kali menyentuh berbagai benda yang mungkin ada droplets yang mengandung virus SARS-CoV-2. Tanpa disadari, kita sering sekali menyentuh bagian wajah. Dengan sering mencuci tangan, kita terhindar dari virus atau varian baru virus corona ketika menyentuh bagian wajah.

5.   Tidak Keluar Rumah kalau Tidak Urgent. Sebagai makhluk sosial, manusia memang membutuhkan interaksi dengan orang lain. Hanya saja, di tengah pandemi ini sebaiknya kita membatasi interaksi dengan orang lain kalau memang tidak penting-penting amat. Dengan membatasi mobilitas, kita bisa membantu memutus mata rantai penularan.

– – – – – – Editorial Pick – – – – – –
Jangan Bingung, Inilah Perbedaan Rapid Test Antibodi, Tes Serologi, Swab Antigen dan Swab PCR
Apa itu Vaksin? Simak Fakta dan Mitos Tentang Vaksin
Rapid Test Corona dan Swab Test. Mana Yang Lebih Akurat?
Coronavirus: Apa Bisa Dicegah Dengan Antiseptik?
Mengenal Donor Sperma: Prosedur, Risiko dan Hukumnya di Indonesia
14 Coronavirus Tips: Cara Pencegahan yang Efektif

Nah, itulah hasil penelusuran tim Ngovee terhadap varian baru virus corona ini. Melihat fakta-faktanya yang ternyata lebih menular, membuat kita harus lebih giat lagi dalam menerapkan protokol kesehatan.

Jangan lupa, meskipun daya tahan tubuh kamu kuat, tetapi kamu masih bisa menjadi carrier dan menularkannya ke orang-orang yang rentan dan berisiko tinggi. Oleh karena itu, yuk kita terapkan protokol kesehatan.

Dapatkan vitamin terbaik hanya dari Jovee. Untuk mengetahui rekomendasi vitamin harian, Anda bisa juga mengunduh aplikasi Jovee. Jovee adalah aplikasi yang dapat merekomendasikan suplemen sesuai dengan kebutuhan personal Anda. Aplikasi Jovee tersedia melalui Google Play Store maupun App Store.

Penulis: Fadhel Yafie

Referensi:

British Medical Journal (2020) | COVID-19: New Coronavirus Variant is Identified in UK.

CNN Indonesia (2020) | Pakar: Varian Baru Corona Berisiko Masuk RI Sebelum 1 Januari

Detik Health (2020) | Kata Pakar UGM Soal Varian Baru Virus Corona dari Inggris.

National Geographic (2020) | Why new coronavirus variants ‘suddenly arose’ in the U.K. and South Africa

Times of India (2020) | New Coronavirus Variation: Are There Any Different Symptoms? Will Vaccines Work Against Them?

The New York Times (2020) | Coronavirus Variant Is Indeed More Transmissible, New Study Suggests