Autisme pada Anak: Mengenal Gejala, Penyebab, Deteksi hingga Perawatannya

Ditinjau oleh: dr. Irma

Banyak dari kita masih kesulitan untuk membedakan antara attention deficit hyperactive disorders (ADHD) dan gangguan spektrum autisme pada anak. Padahal, dua istilah tersebut adalah dua penyakit yang berbeda jauh. Pada tulisan kali ini, kami akan membahas untuk lebih mengenal autisme mulai dari apa itu autisme, jenis-jenis autisme, gejala autisme, penyebab autisme, bagaimana mendeteksi autisme pada anak hingga treatment-nya.

Apa itu Autisme pada Anak?

Spektrum autisme merupakan istilah yang digunakan untuk kelompok penyakit yang disebabkan oleh gangguan perkembangan saraf. Oleh karena banyaknya jenis autisme, maka penyakit ini juga sering dikenal dengan autism spectrum disorders (ASD) atau gangguan spektrum autisme.

Gangguan ini sering kali terlihat melalui masalah komunikasi dan interaksi sosial. Mereka yang mengidap gangguan spektrum autisme biasanya menunjukkan minat atau pola pada perilaku yang terbatas dan berulang-ulang.

Autisme ditemukan di seluruh penjuru dunia, terlepas dari ras, budaya, latar belakang ekonomi dan lain sebagainya. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), autisme lebih banyak menyerang anak laki-laki dibandingkan anak perempuan dengan rasio 4:1.

Pada tahun 2014, CDC memperkirakan, satu dari 59 anak lahir dengan gangguan spektrum autisme.

Jenis-Jenis Autisme Pada Anak

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA) merupakan buku rujukan yang digunakan di seluruh dunia tentang penyakit mental.

Nah, DSM terbaru yaitu edisi ke-5 mengklasifikasikan gangguan spektrum autisme ini dalam 5 jenis karakteristik. Di antaranya adalah:

  • Gangguan intelektual  sehingga sulit untuk menyelesaikan tugas-tugas kompleks
  • Gangguan bahasa sehingga sulit berkomunikasi
  • Gangguan motorik yang biasanya terlihat dari gerakan monoton yang berulang
  • Terkait dengan kondisi medis atau genetik
  • Terkait dengan gangguan perkembangan saraf, mental atau perilaku

Seseorang yang mengidap autisme bisa memiliki lebih dari 1 jenis karakteristik.

Apa Gejala Autisme?

Gejala autisme pada anak bisa dideteksi sejak dini dari masa anak berusia sekitar 1 sampai 2 tahun. Tetapi, gejala autisme bisa juga muncul lebih awal atau belakangan.

DSM 5 membagi gejala spektrum autisme dalam dua kelompok. Pertama, gangguan komunikasi dan interaksi sosial. Kedua, gangguan motorik yang nampak dari gerakan berulang yang monoton. Atau biasa disebut juga dengan gerakan katatonik.

  • Gangguan komunikasi dan interaksi sosial

Gangguan ini menyebabkan pengidap autisme pada anak ini kesulitan untuk merasakan emosi dan menunjukkan ketertarikan pada lingkungan sekitar. Mereka juga menghindari kontak mata dan interaksi sosial lainnya seperti kesulitan saat diajak berkomunikasi.

Ketika anak yang mengidap autisme ini menginginkan sesuatu, biasanya mereka menangis dengan keras dan menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Tetapi, karena kesulitan berkomunikasi, mereka tidak bisa menyampaikan maksud dan apa yang diinginkannya pada orang lain.

  • Gangguan motorik

Pengidap autisme pada anak yang lain adalah gangguan motorik yang membuat mereka melakukan pergerakan dan kata-kata yang berulang dan monoton. Mereka juga menunjukkan satu perilaku rutin dan ketertarikan pada satu objek tertentu.

Anak yang mengidap autisme juga seringkali memiliki indera yang sangat sensitif. Sehingga suara, aroma atau sentuhan tertentu membuat mereka terganggu.

Untuk dapat mendiagnosa autisme, diperlukan analisis yang mendalam terhadap gejala-gejala tersebut untuk memastikan apakah anak tersebut benar-benar mengidap autisme.

Penyebab Spektrum Autisme

Para pakar kesehatan belum bisa menemukan penyebab pasti spektrum autisme. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa autisme disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut faktor-faktor yang dicurigai sebagai penyebab autisme pada anak:

  1. Memiliki keluarga yang juga mengidap autisme
  2. Mutasi genetik saat di kandungan
  3. Lahir dari orangtua yang berusia tua
  4. Kelahiran dengan berat badan rendah
  5. Ketidakstabilan metabolisme tubuh
  6. Terpapar zat-zat berbahaya
  7. Riwayat pernah terserang virus

Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), kombinasi faktor genetik dan lingkungan yang buruk meningkatkan peluang munculnya anak yang mengidap spektrum autisme.

Banyak kabar yang mengatakan bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme pada anak. Tetapi, sampai hari ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan hal tersebut. Ya, vaksin sebagai penyebab autisme pada anak hanya mitos belaka.

Bagaimana Cara Mendiagnosa Autisme?

Eits, jangan dulu terlalu cepat mendiagnosa anak yang terlambat berbicara sebagai pengidap autisme. Untuk bisa mengetahui spektrum autisme, ada beberapa cara yang biasanya digunakan. Dari skrining awal, observasi bertahap, tes genetik dan evaluasi.

  • Skrining Perkembangan

The American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan semua anak untuk melakukan skrining saat anak berusia 18 sampai 24 bulan. Skrining ini dapat membantu identifikasi awal bagi anak-anak yang mungkin mengidap autisme. Semakin dini deteksinya, semakin cepat anak tersebut mendapat pertolongan dan memiliki dampak yang bagus untuk perkembangannya.

Sebuah alat tes yang bernama Modified Checklist for Autism in Toddlers (M-CHAT) adalah alat skrining yang paling sering digunakan oleh dunia kesehatan. Alat skrining ini berisi 23 pertanyaan yang harus diisi oleh orangtua tentang perilaku anak.

Meskipun tidak bisa menjadi alat diagnosa, tetapi skrining ini sangat penting untuk mengetahui kecenderungan autisme yang mungkin diderita. Anak yang mendapat skor positif mengidap autisme pada skrining ini, belum tentu benar-benar mengidap autisme. Ada beberapa tahap tes yang harus diikuti guna memastikan diagnosa autisme.

  • Tes Autisme

Setelah mendapat skor positif pada skrining awal, anak tersebut akan diobservasi dan diteliti lebih lanjut. Ada berbagai macam tes yang perlu diikuti untuk memastikan diagnosa. Di antaranya ada

  1. Tes genetik
  2. Evaluasi perilaku
  3. Tes visual dan audio
  4. Skrining okupasi
  5. Kuesioner perkembangan seperti Autism Diagnostic Observation Schedule (ADOS)

Diagnosa harus melibatkan tim profesional dan spesialis. Tim ini biasanya beranggotakan psikolog, terapis okupasi dan ahli patologi lainnya.

Anak yang mengalami gangguan spektrum autisme biasanya sulit untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar
Anak yang mengalami gangguan spektrum autisme biasanya sulit untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar

Bagaimana Mengobati Autisme pada Anak?

Sampai hari ini belum ada obat untuk penderita autisme. Terapi dan perawatan lainnya bisa membantu sedikit meredakan gejala dan membuat pengidap lebih baik hingga bisa mengontrol diri dengan lebih baik.

Meskipun tidak bisa benar-benar jadi anak normal biasa, setidaknya terapi dan perawatan bisa meningkatkan kemampuan kognitif sehingga anak tersebut bisa hidup mandiri dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada satu pun terapi yang cocok untuk semua anak. Setiap terapi yang diberikan harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak agar mendapatkan hasil yang maksimal. Jika diberikan terapi yang tepat, anak tersebut memiliki kemungkinan yang tinggi untuk dapat menggunakan kemampuannya jika mereka diberikan pengobatan dan perawatan yang baik.

Sayangnya, pengobatan untuk autisme pada anak yang sudah menginjak usia remaja dan dewasa tidak banyak diketahui. Oleh karena itu, satu-satunya cara yang paling efektif untuk membantu anak pengidap autisme adalah deteksi dini dan pertolongan sejak dini.

Berikut beberapa terapi yang biasanya digunakan untuk anak pengidap spektrum autisme:

  • Terapi perilaku
  • Terapi bermain
  • Terapi okupasi
  • Terapi fisik
  • Terapi berbicara

Selain diberikan terapi, pengidap autisme pada anak juga harus diberikan nutrisi yang baik untuk membantu perkembangannya. Oleh sebab itu, anak pengidap autisme tidak dianjurkan untuk sembarangan makan.

Ada beberapa makanan yang direkomendasikan oleh ahli untuk membantu tumbuh kembang anak dengan autisme, di antaranya:

  • Buah-buahan dan sayuran segar
  • Unggas tanpa lemak
  • Ikan segar
  • Lemak tidak jenuh
  • Banyak mengkonsumsi air putih

Beberapa ahli juga menganjurkan diet bebas gluten bagi pengidap spektrum autisme. Jadi yang harus dihindari adalah tepung, jelai dan biji-bijian.

– – – – – – Editorial Pick – – – – – –
8 Fakta Asam Folat Untuk Kesehatan
Tips Untuk Program Hamil Anak Kembar Yang Ampuh, Apa Ada?
Pentingnya Vitamin C Untuk Anak
Dampak Kecanduan Gadget Pada Perkembangan Anak
Mengenal Donor Sperma: Prosedur, Risiko dan Hukumnya di Indonesia
10 Buah Terbaik Penyubur Rahim Menurut Sains

Latihan fisik juga dapat berdampak baik untuk anak yang mengidap autisme. Pengidap autisme pada anak mungkin menyukai aktivitas spesifik tertentu. Dengan mengeksplorasi dan menemukan aktivitas yang disukai oleh anak, hal itu dapat sangat bermanfaat untuk perkembangan si anak. Karena, biasanya anak pengidap autisme memiliki fokus dan konsentrasi yang ekstra ketika ia menyukai sesuatu.

Berenang dan berada di dalam air dapat berfungsi sebagai olahraga dan aktivitas bermain sensorik. Aktivitas bermain sensorik dapat membantu anak dengan autisme yang mungkin mengalami masalah dalam memproses sinyal dari indera mereka.

Jangan sampai ketinggalan tren dan informasi terbaru. Simak selengkapnya hanya di Ngovee. Unduh aplikasi Jovee melalui Google Play Store maupun App Store untuk mendapatkan rekomendasi vitamin sekarang. Dapatkan vitamin terbaik hanya dari Jovee.

Penulis: Fadhel Yafie 

Referensi:

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders: 5th edition. Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Vaccines do not cause autism. (2015).

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Autism spectrum disorder (ASD): Data and statistics. (2018).

Zwaigenbaum L, et al. (2015). Early screening of autism spectrum disorder: Recommendations for practice and research.