Mengenal Penyakit Peyronie: Gejala, Penyebab hingga Pengobatannya

Ditinjau oleh: dr. Denny Archiando

Disfungsi ereksi adalah kondisi di mana seorang pria sulit untuk mendapatkan ereksi atau mempertahankannya. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi kepercayaan diri pria dan berdampak terhadap performa ranjang serta kehidupan rumah tangga.

Penyebab terjadinya disfungsi ereksi itu beragam. Salah satunya yang cukup langka adalah Peyronie. Penyakit Peyronie membuat penis menjadi bengkok sehingga penderitanya akan mengalami rasa sakit yang signifikan ketika sedang ereksi.

Pria yang mengidap penyakit ini biasanya tetap bisa melakukan hubungan intim seperti biasanya. Namun, pada beberapa kasus, penderita Peyronie tidak mampu berhubungan seksual karena rasa sakit yang dialaminya atau bahkan ketidakmampuannya untuk ereksi.

Ketidakmampuan untuk melakukan hubungan seksual sering kali menyebabkan kecemasan dan ketidaknyamanan pada pria. Penyakit ini memang dapat hilang dengan sendirinya, tetapi kalau dalam jangka waktu lama belum juga membaik, Peyronie tidak boleh diremehkan begitu saja apa lagi didiamkan berlama-lama.

Gejala Penyakit Peyronie

Gejala utama penyakit Peyronie adalah pembentukan jaringan parut datar yang disebut plak. Jaringan parut ini umumnya dapat dirasakan melalui sentuhan. Plak biasanya terbentuk di sisi atas penis, tetapi bisa juga terjadi di bagian bawah atau di samping batang penis.

Berikut gejala pada penyakit Peyronie yang biasanya muncul:

  • Jaringan parut. Jaringan parut yang biasanya disebut sebagai plak ini mengganggu aliran darah yang ada di penis sehingga dapat menyebabkan kelengkungan.
  • Kelengkungan penis. Arah kelengkungan tergantung pada di mana letak jaringan parutnya.
  • Masalah ereksi. Penyakit Peyronie dapat menyebabkan gangguan ereksi seperti kesulitan ereksi atau mempertahankannya.
  • Perubahan ukuran penis. Penis penderita penyakit Peyronie juga dapat mengecil.
  • Rasa sakit. Penderita juga akan merasakan sakit baik saat sedang ereksi atau dalam kondisi normal.

Terkadang plak juga bisa terjadi di seluruh bagian penis, menyebabkan kelainan bentuk sehingga mirip seperti bentuk leher botol yang mengecil di bagian ujungnya. Plak pada penyakit Peyronie dapat menyerap kalsium sehingga menjadi sangat keras. Jaringan parut ini menyebabkan ereksi terasa menyakitkan. Hasilnya, ereksi menjadi tidak “sekeras” biasanya dan memperparah kelengkungannya.

Jaringan parut di bagian tertentu penis mengurangi elastisitas di bagian tersebut. Plak di bagian atas penis dapat menyebabkan penis melengkung ke atas saat ereksi. Plak di samping dapat menyebabkan lengkungan ke arah samping. Lebih dari satu plak dapat menyebabkan lengkungan yang kompleks.

Kelengkungan dapat menyulitkan penetrasi seksual. Jaringan parut dapat menyebabkan penis menyusut dan memendek. Mimpi buruk bagi nyaris seluruh pria.

Penyebab Penyakit Peyronie

Menurut Mayo Clinic, penyebab utama penyakit Peyronie tidak diketahui secara pasti. Meskipun begitu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyakit Peyronie dapat berkembang setelah terjadi cedera atau trauma pada penis yang berulang-ulang.

Penis dapat mengalami cedera saat berhubungan seksual, olahraga atau bahkan karena kecelakaan tertentu seperti benturan keras pada penis. Hal ini dapat menyebabkan pendarahan dan terbentuknya jaringan parut pada penis.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyebutkan dalam kasus tertentu, penyakit Peyronie ini bisa saja muncul tanpa adanya cedera atau trauma pada penis. Jadi, memang penyebab penyakit ini belum bisa diketahui secara pasti.

Beberapa faktor yang dikaitkan dengan terjadinya penyakit Peyronie antara lain:

  • Genetik. Jika ada anggota keluarga yang menderita penyakit Peyronie, maka risiko untuk bisa terjangkit penyakit ini juga meningkat.
  • Kelainan jaringan parut. Pria dengan kelainan jaringan parut memiliki risiko untuk mengalami penyakit Peyronie lebih tinggi. Contohnya, sejumlah pria dengan penyakit Peyronie juga memiliki penebalan pada telapak tangan yang menyebabkan jari-jari berbentuk seperti tertarik ke dalam dan (kontraktur Dupuytren) dan melengkung.
  • Usia. Penyakit Peyronie dapat terjadi pada pria dari segala usia, tetapi risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama untuk pria berusia 50-an dan 60-an. Kelengkungan pada pria yang lebih muda lebih jarang terjadi.
  • Faktor lain. Kondisi kesehatan tertentu, merokok, beberapa tipe operasi prostat dan operasi di sekitar penis juga dapat meningkatkan risiko terjangkit penyakit Peyronie.
Penyakit peyronie dapat membuat penis menjadi bengkok dan membuat pengidapnya kesulitan untuk melakukan penetrasi seksual
Penyakit peyronie dapat membuat penis menjadi bengkok dan membuat pengidapnya kesulitan untuk melakukan penetrasi seksual

Bagaimana Diagnosisnya?

Langkah pertama dari diagnosis penyakit Peyronie adalah wawancara medis dan pemeriksaan fisik secara langsung. Dokter biasanya meraba jaringan parut pada penis dan mengukur kelengkungannya. Untuk memastikan kelengkungannya, dokter biasanya memberikan suntikan tertentu agar terjadi ereksi. Setelah itu dokter mengukur ukuran penis.

Hal ini dilakukan agar ketika kondisi semakin memburuk, dokter memiliki catatan awal sehingga bisa menentukan apabila terjadi perubahan ukuran pada penis.

Selain itu, ultrasonografi juga sering digunakan sebagai pemeriksaan penunjang pada kelainan penis. Pemeriksaan ultrasonografi menggunakan gelombang suara untuk memperlihatkan citra jaringan lunak yang lebih baik. Hasil pemeriksaan ini bisa lebih akurat dalam memperlihatkan jaringan parut dan kelainan yang terjadi pada penis.

Penanganan Penyakit Peyronie

Tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit peyronie, tetapi penyakit ini bisa disembuhkan bahkan bisa sembuh dengan sendirinya. Meskipun para pasien sering kali meminta obat untuk mempercepat penyembuhan, banyak dokter yang lebih memilih untuk melakukan observasi lebih lanjut jika gejala yang dirasakan dianggap belum parah.

Nah, berikut beberapa cara pengobatan untuk penyakit Peyronie:

  • Obat-obatan

ika dianggap sudah parah, dokter biasanya merekomendasikan obat-obatan. Sering kali obat yang diberikan disuntikkan langsung ke penis. Hanya ada satu obat yang sudah disetujui oleh Food Drug Administration (FDA) untuk menyembuhkan kondisi ini, yaitu clostridium hystolyticum (Xiaflex). Obat ini dapat digunakan jika kelengkungan pada penis yang ereksi sudah melebihi 30 derajat.

  • Tindakan Tanpa Operasi

Sebuah tindakan tanpa operasi yang disebut iontophoresis menggunakan arus listrik lemah untuk melancarkan peredaran darah dan menghancurkan jaringan parut di dalam penis.

  • Operasi Pembedahan

Ini adalah langkah terakhir jika pengobatan-pengobatan sebelumnya tidak bisa menyembuhkan penyakit Peyronie. Pembedahan dilakukan untuk mengambil jaringan parut yang ada di dalam penis. Dalam kasus tertentu, bisa juga dilakukan implan penis untuk menggantikan bagian penis yang rusak karena penyakit ini.

  • Mengubah Gaya Hidup

Semua gejala disfungsi ereksi, termasuk penyakit Peyronie seringkali disebabkan olah gaya hidup yang kurang sehat. Oleh karena itu, untuk bisa mencapai kesehatan seksual, sangat direkomendasikan untuk menerapkan gaya hidup sehat termasuk berhenti merokok, berhenti menggunakan narkoba, mengurangi konsumsi alkohol dan olahraga secara rutin.

  • Pengobatan Alami

Mayoritas obat alami untuk penyakit Peyronie ini belum dipelajari lebih lanjut atau belum dibuktikan secara ilmiah. Penelitian tahun 2001 yang terbit di BJU International menyebutkan bahwa acetyl carnitine secara signifikan lebih aman dibandingkan clostridium hystolyticum dalam mengobati penyakit Peyronie.

Kemudian, penelitian tahun 2010 yang terbit di International Journal of Impotence Research menemukan bahwa coenzyme Q10 suplemen dapat meningkatkan fungsi ereksi. Suplemen ini juga dapat mengurangi kelengkungan pada pasien yang menderita penyakit Peyronie.

Nah, menurut artikel yang terbit di Reviews in Urology, vitamin E secara ekstensif bisa digunakan untuk mengobati penyakit Peyronie. Meskipun terdapat beberapa penelitian yang membantah hasil tersebut dan mengatakan bahwa pasien menjadi lebih baik karena efek plasebo, bukan karena vitamin E.

Penelitian-penelitian di bidang ini belum banyak yang memberikan hasil signifikan terhadap pengobatan penyakit Peyronie. Oleh sebab itu, masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk memastikan dan menemukan obat yang lebih ampuh untuk menyembuhkan penyakit Peyronie.

Nah, itulah kurang lebih berbagai informasi yang bisa Tim Ngovee kumpulkan tentang penyakit Peyronie. Kalau kamu merasakan gejala seperti yang tadi sudah disebutkan, alangkah baiknya langsung menghubungi dokter agar bisa segera ditangani.

Semua penyakit yang ada di dunia itu punya kemungkinan sembuh lebih tinggi jika dideteksi sejak dini. Jadi, jangan kebiasaan untuk mendiamkan penyakit berlama-lama. Penyakit yang didiamkan bisa menjadi komplikasi dan memicu munculnya penyakit lain.

Ingin mengetahui informasi kesehatan terpercaya? Daftarkan email Anda di Ngovee. Untuk mendapatkan suplemen dan vitamin spesial buat Anda, unduh aplikasi Jovee. Tersedia melalui Google Play Store maupun App Store. Dapatkan vitamin terbaik hanya dari Jovee.

Penulis: Fadhel Yafie

Referensi:

Mayo Clinic, Peyronie’s Diseases.

Healthline, Understanding ED: Peyronie’s Diseases.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, Penile Curvature (Peyronie’s Disease)

BJU International | Biagiotti, G., & Cavallini, G. (2001, December 20). Acetyl‐l‐carnitine vs tamoxifen in the oral therapy of Peyronie’s disease: A preliminary report.

National Institute of Health, Urology Review | Kuehhas, F., Weibl, P., Georgi, T., Djakovic, N., & Herwig, R. (2011). Peyronie’s Disease: Nonsurgical Therapy Options.